One Piece dan Reaksi Pemerintah Yang Unfaeda

Tanggal 04 Agustus 2025 saya memberikan ulasan tentang One Piece menjelang kemerdekaan di Facebook saya, tidak ramai dan fyp. Tapi tugas sebagai kru baka sencho sudah saya jalankan. Heheeey

Kemarin, sebuah berita dari Sulutnow.com mengabarkan bahwa Bupati Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) angkat bicara soal anime “One Piece”. Beliau menyatakan bahwa anime tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai nasionalisme Indonesia. Pernyataan ini sontak mengundang perhatian publik, terutama para penggemar anime di Bolmut yang merasa bahwa pemerintah terlalu reaktif terhadap budaya populer.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Pemerintah kita sering kali menunjukkan sikap yang cenderung ikut-ikutan dalam menanggapi isu-isu yang sedang viral. Ketika ada tren atau kontroversi di media sosial, pejabat publik berlomba-lomba memberikan komentar, seolah-olah menunjukkan kepedulian mereka terhadap moral bangsa. Namun, seringkali komentar tersebut justru memperkeruh suasana dan menunjukkan kurangnya pemahaman yang mendalam terhadap isu yang dibahas.

Dalam kasus “One Piece”, pertanyaannya adalah: apakah benar anime tersebut mengancam nasionalisme kita? Ataukah ini hanya reaksi berlebihan dari pemerintah yang merasa perlu untuk selalu terlihat waspada terhadap pengaruh asing? Jika kita menelusuri lebih dalam, “One Piece” adalah cerita tentang petualangan, persahabatan, dan perjuangan melawan ketidakadilan. Nilai-nilai ini sejatinya universal dan tidak bertentangan dengan semangat nasionalisme.

Namun, pemerintah kita tampaknya lebih fokus pada simbol-simbol daripada substansi. Mereka cepat bereaksi terhadap hal-hal yang tampak asing atau berbeda, tanpa benar-benar memahami konteksnya. Ini mencerminkan sikap ikut-ikutan yang tidak produktif dan justru mengalihkan perhatian dari isu-isu yang lebih penting. Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Bintauna misalnya, yang sampai hari ini sungai masih diaknesasi pakai alat berat Excavator.

Kalau Saya Jadi Bupati, Saya Tidak Akan Takut Sama Bendera One Piece

Kalau saya jadi Bupati, saya nggak bakal repot-repot suruh Kapolres ngawasin bendera bajak laut. Apalagi sampai sounding, “Tidak ada bendera selain Merah Putih.” Astaga. Tenang, Pak. Rakyat lagi senang-senangnya cosplay, bukan mau makar.

Saya justru akan lebih khawatir sama tambang emas ilegal yang diam-diam nyedot tanah, air, dan masa depan warga. Sudah jelas-jelas tidak punya izin produksi, tapi kok dibiarkan hidup bebas seperti kru Blackbeard? Jangan-jangan, yang bajak laut sebenarnya bukan yang pasang bendera One Piece, tapi yang mengeruk kekayaan alam tanpa permisi.

Kita ini kadang terlalu semangat ikut-ikutan nasionalis, tapi lupa esensi perjuangan itu bukan sekadar simbol. Kita sibuk marah pada bendera anime, tapi diam seribu bahasa soal tambang emas yang meracuni sungai.

Padahal, kalau ditanya soal nasionalisme, anak-anak muda yang pasang bendera Luffy itu mungkin lebih tahu rasa solidaritas, mimpi besar, dan arti melawan ketidakadilan. Bandingkan dengan yang diam-diam ngurus izin tambang di balik meja.

Daripada berkhotbah soal nasionalisme ala anime, lebih baik pemerintah peduli harga tanah longsor, ketabahan warga Bintauna, dan lingkungan yang sedang memburuk. Kalau sudah tanggap terhadap masalah lokal, baru boleh pamer nasionalistik. Itu dulu.

Pemerintah kita terlalu reaktif dan cenderung keliru: marah pada simbol One Piece, tapi acuh pada tumpahan emas ilegal di sungai kita sendiri. Nasionalisme tanpa keadilan lokal hanyalah omong kosong merah-putih. Kalau benar-benar cinta tanah air, mulailah dari tindakan nyata: hentikan tambang ilegal, lindungi masyarakat. Itu paling utama.

Itulah kritik kecil sekaligus harapan besar: agar pemerintah tidak hanya sekadar ikut‑ikutan, tapi juga turun tangan, terutama saat persoalan lokal mulai mencuri hidup masyarakat.

Sebagai masyarakat, kita perlu kritis terhadap sikap pemerintah yang seperti ini. Kita harus mendorong mereka untuk lebih bijak dan proporsional dalam menanggapi budaya populer. Terakhir saya teringat kata-kata dari salah satu “Supernova” kapten Eustass Kid “Dibandingkan para penguasa yang tamak, dunia kriminal masih bisa disebut lebih mermoral. Apakah kalian sadar saat dunia dikuasai oleh (sampah) maka dunia akan melahirkan sampah. Setidaknya kita tidak menutupi kejahatan kita”. (manga chap: 500/394)

Jangan mati sebelum “One Piece” tamat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top